Dari Seorang Pemula untuk Teman-Temanku yg Bukan Pemula Lagi

6 Jun

Bismillah

Dengan tulisan ini saya -yg masih pemula- ingin mengingatkan teman2ku sekalian yang -anggaplah- bukan pemula lagi dalam masalah ilmu syar’i untuk tetap memelihara keikhlasan, menjaga hati dari penyakit2 hati yg samar, konsisten dalam beribadah -walau sedikit tapi kontinu-, mengejar keutamaan, dll.

Kadang ketika saya melihat sebagian teman saya yg -sebutlah- awam -sebagaimana awamnya kaum muslimin pada zaman ini dalam masalah ilmu syar’i- tapi tidak dikenal dengan perbuatan dosa besar atau bid’ah, saya menjadi berpikir apa iya teman2ku yg -anggaplah- bukan pemula lagi dalam masalah ilmu syar’i, yg zhahirnya semangat dalam beragama itu otomatis lebih mulia dari mereka [org2 awam] di sisi Allah? Wallahua’lam.

Mungkin mereka [orang2 awam itu] bukan tukang ngaji [ngaji kitab gundul di majlis ilmu], ga bisa bahasa arab, ga bisa meneliti keotentikan sebuah atsar dan ga tahu kaidah-kaidah dalam memahami teks2 keagamaan secara benar.

Mungkin mereka ga tahu apa itu marfu’, majzum, manshub, majrur, wazan2 fi’l, dll

Ga tahu apa itu syadz, ‘illat, idhtirab, ikhtilath, tadlis, mutab’ah, syawahid, ziyadah ats-tsiqah, dll

Ga tahu apa yg harus dilakukan jika menemui tanaqudh bainal adillah, khilaf bainal ‘ulama, dll

Namun bisa jadi mereka [orang2 awam] itu jauh lebih ikhlas,

Jauh dari riya’

Jauh dari cinta terhadap popularitas, sanjungan atau pengakuan

Jauh dari dengki

Jauh dari fanatisme terhadap kelompok/tokoh

Jauh dari perdebatan tanpa ilmu yg -tidak jarang cuma- dipenuhi dengan cacian

Jauh dari sikap meremehkan orang lain

Jauh dari sikap tergesa2 dalam memvonis sebuah masalah atau kelompok/person tertentu padahal ga tahu hakikat masalahnya

Jauh dari sikap gengsi mengakui kesalahan/kekurangan

Jauh dari sikap “kalo untuk kelompok saya boleh tapi untuk kelompok kalian ga boleh” alias standar ganda

Jauh dari sikap pura2, entah pura2 supaya terlihat hebat, dll

Lisannya lebih terjaga

Lebih mau mengintrospeksi diri daripada mencari2 dan memperhatikan kesalahan orang lain

Dan jika mereka beribadah maka ibadah mereka kontinu -walau sedikit-, juga bukan sekedar rutinitas keseharian yg kosong dari makna.

Ya, bisa jadi orang2 yg -anggaplah- awam memiliki semua sifat2 terpuji tersebut dan bisa jadi para penuntut ilmu yg bukan pemula lagi malah jauh dari sifat2 terpuji tersebut. Saya bukan su-uzhan tapi saya hanya ingin mengajak teman2ku -juga diri saya yg masih pemula- untuk sama-sama berkaca, introspeksi diri, kalau2 ada kekurangan pada diri kita.

Melalui tulisan ini saya tidak mengatakan: “Ya sudahlah jadi orang awam saja, ga usah capek2 belajar ilmu syar’i”, sekali2 tidak.  Tidak tersembunyi lagi bagi kita -terutama bagi teman2ku yg bukan pemula lagi- tentang keutamaan  ilmu dan ahlinya. Namun betapa memprihatinkannya jika kita hanya sibuk mengoleksi ilmu lalu tidak mengamalkannya, atau mengamalkannya tapi tanpa pemaknaan dan hanya sekedar rutinitas keseharian. Betapa memprihatikannya jika para penuntut ilmu -terutama yg bukan pemula lagi- jauh dari sifat2 terpuji yg ironisnya malah dimiliki oleh orang2 awam.

Renungkanlah tulisan ini…Demi Allah saya tidak bermaksud kecuali mengajak kepada kebaikan dan jika ada uslub yg tidak mengenakan hati dalam tulisan saya ini maka saya minta maaf. Bacalah tulisan ini dengan kacamata husnuzhan, bukan dengan kacamata su-uzhan. Lihatlah tulisan ini sebagaimana tulisan ini adanya bukan sebagaimana kalian adanya. Unzhur maa qaal walaa tanzhur man qaal…

Ditulis oleh saudaramu yg masih pemula: Pemilik Blog ini

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.