URGENSI PENYUCIAN JIWA

16 Mei

Audio: [Audio http://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abu%20Ihsan%20Al-Atsary/Maqom%20Tazkiyatun%20Nufus/Maqom%20Tazkiyatun%20Nufus.mp3%5D

Audio Selengkapnya: Klik

Ebook: Hati, penyakit dan obatnya

Ebook Selengkapnya: Klik

Outline:

1. Pentingnya Tazkiyatun Nafs [Penyucian Jiwa]

2. Tazkiyatun Nafs adalah Tugas Para Rasul

3. Keberuntungan Orang yang Menyucikan Jiwanya

4. Sucinya Jiwa Seseorang di Bawah Kehendak Allah

1. Pentingnya Tazkiyatun Nafs [Penyucian Jiwa]

Pentingnya tazkiyatun nafs tercermin dalam dalil-dalil berikut. Coba antum perhatikan dan renungkan dalil-dalil berikut. oke?!

Dalil pertama. Hadits Nabi shallallahu’alayhiwasallam:

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

(BUKHARI – 50) : Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Telah menceritakan kepada kami Zakaria dari ‘Amir berkata; aku mendengar An Nu’man bin Basyir berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Namun diantara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka barangsiapa yang menjauhi diri dari yang syubhat berarti telah memelihara agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang sampai jatuh (mengerjakan) pada perkara-perkara syubhat, sungguh dia seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang yang dikhawatirkan akan jatuh ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki batasan, dan ketahuilah bahwa batasan larangan Allah di bumi-Nya adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati”.

Dalil kedua. Hadits Nabi shallallahu’alayhiwasallam:

حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ أَبُو بِشْرٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ سَعِيدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَمَّا بَعْدُ

(IBNUMAJAH – 1883) : Telah menceritakan kepada kami Bakr bin Khalaf Abu Bisyr berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ berkata, telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abu Hind berkata, telah menceritakan kepadaku Amru bin Sa’id dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “AL HAMDULILLAH NAHMADUHUU WA NASTA’IINUHU WA NA’UUDZU BILLAHI MIN SYURUURI ANFUSINAA WA MIN SAYYIAATI A’MAALINAA MAN YAHDIHILLAHU FALAA MUDLILLALAH WA MAN YUDLLILHU FALAA HAADIALAH WA ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLA ALLAH WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA RASUULUHU, AMMA BA’DU (Segala puji bagi Allah, kami memuji dan meminta tolong kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa dan amalan buruk kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah tidak ada kesesatan baginya dan barangsiapa diberi kesesatan oleh Allah tidak akan ada petunjuk baginya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma Ba’du).”

Penjelasan: Pada doa ini Nabi shallallahu’alayhiwasallam memohon perlindungan kepada Allah terhadap keburukan jiwa beliau. Jika beliau yang ma’shum saja minta perlindungan kepada Allah dari buruknya jiwa maka bagaimana lagi dengan kita yang tidak banyak salah dan lupa.

Firman Allah:

يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. [Surat Asy-Syu’ara: 88-89]

Faidah perkataan ‘ulama mengenai “hati yang bersih” [qalbun salim]:

a. Ibnu Katsir berkata:

“Pada waktu itu tidak ada lagi ada yang berguna kecuali :

– keimanan kepada Allah,

– keikhlasan kepadaNya

– dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya”.

b. Ibnu Sirin berkata:

“Hati yang bersih adalah hati yang meyakini:

– Allah itu benar adanya

– Hari kiamat benar adanya

– dan Allah akan membangkitkan orang-orang yang berada dalam kubur”

c. Mujahid, Hasan Al-Bashri dan lainnya berkata:

“ Hati yang bersih dari syirik”

d. Sa’id bin Musayyib berkata:

“ Hati yang sehat itulah hati orang yang beriman sebab hati orang kafir itulah hati yang sakit”

e. Abu Utsman An-Naisabury berkata:

“ Yaitu hati yang selamat dari bid’ah dan merasa cukup dengan Sunnah”

[Lihat: Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini]

2. Tazkiyatun Nafs adalah Tugas Para Rasul

Perhatikan dalil-dalil berikut:

Pertama, firman Allah:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, [Al-Jumuu’ah:2]

Kedua, Firman Allah:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. [Al-Baqarah: 151].

Faidah:

Syaikh ‘Abdurahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan “Mensucikan Akhlak dan Jiwa” yakni:

Mendidiknya dengan akhlak yang baik dan mensucikannya dari akhlak yang jelek, seperti:

a. Kesyirikan diganti jadi tauhid

b. Riya’ diganti jadi ikhlas

c. Kedustaan diganti jadi kejujuran

d. Khianat diganti jadi amanah

e. Congkak diganti jadi tawadhu’

[Lihat: Tafsir: Taisirul Karimur Rahman Fi Tafsir Kalamil Mannan]

3. Keberuntungan Orang yang Menyucikan Jiwanya

Perhatikan ayat-ayat berikut. Firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu [Asy-Syamsu: 9]

Berkata Ibnu Katsir:

“Beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dengan cara taat kepada Allah dan menyucikannya dari akhlak tercela”.

[Lihat: Tafsir Ibnu Katsir]

Firman Allah:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) [Al-A’laa: 14]

Imam Ath-Thabari berkata:

“Sesungguhnya semua manfaat berpulang pada dirinya sendiri yaitu dia akan memperoleh ridha Allah, kebahagaiaan jiwa, dan keselamatan dari siksa-Nya yang diperuntukkan bagi orang kafir”.

[Lihat: Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabariy]

4. Sucinya Jiwa Seseorang di Bawah Kehendak Allah

Perhatikanlah dua ayat berikut:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلا يُظْلَمُونَ فَتِيلا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun. [An-Nisa: 49]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [An-Nuur: 21].

Referensi: Abu Nu’aim Al-Atsari. 1422 H. Urgensi Penyucian Jiwa. Majalah Al-Furqan Edisi 1 Tahun Pertama. Gresik. Halaman. 16-17.

%d blogger menyukai ini: