Rahasia Dibalik Penggunaan lafazh Sinar [ضياء] untuk Matahari dan Cahaya [نور] untuk Rembulan

3 Jul


Allah telah membedakan dalam firman-firman-Nya antara sinar matahari dan rembulan, sebagaimana dalam firman-Nya:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui [Yunus: 5]

Namun yang menjadi masalah, banyak kamus selain Bahasa Arab [Bahasa Inggris, Perancis dan Jerman] yang tidak membedakan antara sinar dan cahaya. Hal tersebut didasarkan dugaan mereka bahwa keduanya memiliki makna yang sama padahal antara keduanya tidak sama. Sebagaimana yang telah menjadi keyakinan para peneliti dan pemerhati bidang Al-I’jazul ‘Ilmi [Mukjizat Nabi Muhammad shallahu’alayhiwasallam yang telah dibuktikan oleh sains]. Salah seorang mereka mengatakan: “ Mari kita memeriksa ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan sinar matahri dan rembulan. Ambil contoh misalnya dua ayat berikut ini:

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا

Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? [Nuh: 16] dan ayat:

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا

Dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.

Kita akan dapati bahwa Allah telah menamai matahari dengan pelita [سِرَاجًا] dan pada ayat yang lain dinamai dengan pelita yang amat terang [سِرَاجًا وَهَّاجًا]. Yang dimaksud dengan pelita ialah lampu minyak atau listrik yang menerangi. Adapun sinar rembulan maka Allah mengulanginya dengan istilah An-Nuur [cahaya]. Jika kita mengingat kembali apa yang telah kita pelajari dalam ilmu fisika di sekolah maka akan kita dapati bahwa sumber dari sinar terbagi dua, yaitu: sumber langsung dan sumber tidak langsung seperti rembulan dan planet. Yang terakhir adalah materi yang cahayanya berasal dari materi lain seperti matahari, kemudian memantulkan cahayanya kepada kita. Sedangkan matahari dan pelita, maka keduanya memiliki kekhususan yang sama yaitu keduanya merupakan sumber sinar yang sebenarnya. Oleh karena itu, Allah menyamakan antara matahari dengan pelita yang amat terang [misbaaah wahhaaj] tapi untuk rembulan tidak ada satu ayat pun yang menyerupakannya dengan pelita. Selain itu, sinar yang bersumber dari matahari dinamakan [ضياء, baca: Dhiyaa-] sinar. Adapun rembulan maka tidak memiliki sifat yang sama dengan kedua hal ini. Rembulan bukan sumber langsung dari sinar dan hanya pantulan sinar kepada kita. Maka, kita melihatnya dan melihat sinarnya sebagaimana yang dikatakan Allah sebagai cahaya. Sungguh menakjubkan! Selama ini kita tidak pernah merenungkan rahasia Illahi sedetil ini tentang perbedaan antara sinar matahari dan cahaya rembulan padahal seharusnya kita membedakan antara sinar matahari dan cahaya, yaitu sinar yang terpancar dari sumber sinar secara langsung dinamakan [ضياء]. Dan sinar yang terpancar dari sumber sinar yang tidak langsung disebut [نور]. Akan tetapi selama ini kita masih mencampuraduk secara kebahasaan antara sinar [ضياء] dengan cahaya [نور]. Kita membatasi diri dalam sains dan teknologi dengan istilah [ضياء] sinar saja dan kita melupakan padanannya yaitu [نور]. Sebabnya jelas, Bahasa Inggris, Perancis dan bahkan Jerman yang merupakan sumber dari istilah-istilah sains modern, tidak memiliki kecuali cuma satu kata [light-lumeierelicht] dan tidak pernah terlintas sama sekali dalam pikiran kita dan pikiran para penerjemah tentang makna ini yaitu tingkatan sinar ini. Dengan demikian kita mengetahu bahwa bahasa Arab lebih kaya dan lebih detil dari yang lainnya. Disana ada dua istilah untuk kata ini maka kita wajib membedakannya sesuai dengan jenis sumber tersebut; apakah sumbernya bersifat langsung atau tidak langsung.

————————————————————————————————————————————————————————-

Selesai disalin menjelang Ashar di ruang tamu yang berisik dari majalah Qiblati Vol.2/No.1 dengan sedikit perubahan.

%d blogger menyukai ini: