Syi’ah Bertanya: Mengapa Pemakaman Rasulullah Terlambat?

6 Jul

Oleh: Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairiy, ketua Rabitah Al-Muslimun Al-Judud yang berkedudukan di Mekah, Arab Saudi

Kelompok syi’ah memanfaatkan keterlambatan pemakaman Nabi shallallahu’alayhiwasallam sebagai bahan untuk menghujat para sahabat. Mereka mengisukan bahwa ini adalah konspirasi jahat para sahabat terhadap Nabi shallallahu’alayhiwasallam untuk berlepas diri dari mengurusi jenazah Nabi shallallahu’alayhiwasallam sebagaimana yang telah mereka suarakan secara dusta dan zhalim. Syubhat tersebut dapat dibantah dengan penjelasan berikut:

Rasulullah shallallahu’alayhiwasallam wafat pada hari Senin bulan Rabi’ul Awwal saat panasnya waktu dhuha. Dan prosesi penyelenggaraan jenazsah beliau selesai ada hari selasa. Selama itu, beliau diletakkan di atas peraduan di dalam rumah beliau. Kemudian masuklah manusia menshalati beliau secara bergantian. Kemudian beliau dimakamkan di tengah malam pada malam Rabu [selasa malam]. Perincian peristiwa tersebut telah dikumpulkan pada kitab-kitab hadits dan sirah.

Adapun ikhtilaf [perselisihan]yang terjadi diantara para sahabat adalah penolakan sebagian mereka atas kematian beliau dan keraguan mereka atas hal tersebut. Hingga Allah meneguhkan hati mereka dengan khutbah Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Kemudian berkumpulnya orang-orang Anshar di Saqifah Bani Sa’idah dan hadirnya Abu Bakar serta Umar di tengah mereka, maka Allah telah melindungi kaum muslimin dari fitnah perpecahan dan perselisihan dengan khutbah Abu Bakar Ash-Shiddiq di Saqifah tersebut.

Kemudian para sahabat Anshar membaiat beliau di Saqifah lalu sahabat yang lain membaiat beliau di Masjid.

Adapun keterlambatan pemakaman Nabi shallallahu’alayhiwasallam dikarenakan beberapa sebab, antara lain:

1. Shalatnya para sahabat laki-laki perempuan dan laki-laki atas beliau secara berrgantian tanpa ada yang mengimami mereka


2. Adanya perselisihan mereka tentang cara memandikan beliau dan tempat pemakaman beliau


3. Pemberian perhatian yang besar dalam menyatukan umat dan menjaga dari perpecahan karena kepergian beliau

Sungguh kematian beliau adalah sebuah perkara yang sangat besar. Banyak manusia bingung tercengang karenanya dan jantung mereka pun tersentak. Di antara mereka ada yang lumpuh, membisu dan ada pula yang terduduk diam di atas tanah.

Di antara orang yang membisu diam adalah Utsman radhiyallahu’anhu hingga membuatnya pulang-pergi [mondar-mandir]akan tetapi tidak mampu bertutur kata. Di antara orang yang terduduk, tidak mampu bergerak adalah Ali radhiyallahu’anhu. Adapun Abdullah bin Unais, maka dia sakit parah hingga meninggal karena duka [Lihat Ar-Raudh Al-Unf].

Maka bagaimana mungkin kemudian dikatakan setelah itu semua bahwa mereka terlambat memakamkan beliau? Apakah mungkin bagi mereka [para sahabat radhiyallahu’anhu] untuk menguburkan orang yang paling mereka cintai setelah wafat beliau secara langsung? Oleh karena itulah Fathimah radhiyallahu’anha berkata kepada Anas bin Malik radhiyallahu’anhu:

Apakah jiwamu rela menaburkan tanah diatas jasad Rasulullah shallallahu’alayhiwasallam? [HR Bukhari]

Dan yang diinginkan oleh sebagian orang-orang munafik pada hari yang berbicara tentang keterlambatan pemakaman Nabi shallallhu’alayhiwasallam adalah mencaci orang-orang mulia dari para sahabat tersebut. Sekali-kali tidak! Demi Allah, tidaklah dunia ini berhias dengan para sahabat Nabi shalllallhu’alayhiwasallam yang lebih utama dari Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu’anhum. Dan tidak ada di muka bumi ini orang yang mencintai Nabi Muhammad shallallahu’alayhiwasallam, berkorban untuk beliau dengan jiwa, keluarga dan hartanya yang lebih mulia dan lebih terhormat dari mereka. Mudah-mudahan Allah meridhai mereka semua dan mudah-mudahana Allah melaknat orang yang memusuhi dan mencaci para sahabat termasuk mencela ibu kita Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu’anha.

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata:

“Barangsiapa menyembah Muhammad maka sungguh dia telah mati dan barang siapa menyembah Allah maka sesungguhnya Dia Maha Hidup tidak pernah mati”


————————–
—————————————————-

Selesai di salin dari Majalah Qiblati Vol.2/ No.1 di ruang tamuku.

%d blogger menyukai ini: