Apa? Yoga Adalah Ibadah Paganisme???

8 Jul

Yoga tidak sekedar olah tubuh bahkan ia adalah ritual ibadah yang ditujukan oleh pengikutnya kepada Dewa Matahari. Olah tubuh ini telah menyebar sejak lama di India. Nama asli dari olah tubuh ini berasal dari bahasa Sansekerta yaitu sastanga suriyanama sakar yang berarti sujud kepada matahari dengan menggunakan tubuh yang delapan. Olah tubuh ini bergantung pada sepuluh gerakan. Diantaraya adalah gerakan kelima, dimana gerakan ini dilakukan dengan menelungkup diatas tanah dalam keadaan memanjang hingga kedelapan anggota tubuh menyentuh tanah: dua tangan, hidung, dada, dua lutut dan jari jemari kedua telapak kaki. Gerakan ini merupakan bentuk sujud kepada matahari dengan menggunakan anggota tubuh yang delapan.

Latihan-latihan yoga dimulai dengan gerakan pertama yang menyerupai gerakan penghormatan kepada sesembahan dalam hal ini matahari. Latihan-latihan ini harus diiringi lafazh penyembahan kepada matahari dengan jelas dan dinamakan mantra-mantra. Hal ini terus diulang-ulang dengan suara yang keras dan irama yang teratur. Bait-bait dalam mantra ini mengandung nama-nama matahari yang berjumlah 12.

Sebagian dari pengikutnya menambahi dalam lafazh mantra tersebut dengan ucapan: aum haraam, aum hariim, dll yang bermakna : Ya Allah atau Allahuma.

Ketika orang islam berperang melawan orang-orang Hindu, maka orang-orang islam memekikkan kalimat takbir: Allahu Akbar! Adapun orang Hindu maka memekikkan kalimat: Aum haraam! Itu dalam rangka memohon pertolongan kepada tuhan-tuhan mereka.

Jika kita merujuk kepada sebuah kamus terkenal yang bernama Longman, maka kita akan mendapatkan kata mantra yang berarti: bait-bait suci yang diucapkkan para pengukut agama Hindu dalam ibadahnya. Oleh karena itu, kami katakan sesungguhnya yoga itu bukanlah olah tubuh, namun sebenarnya ia adalah salah satu bentuk peribadatan kepada berhala yang mana seorang muslim tidak diperbolehkan melakukannya sedikitpun.

Jika ditanyakan:

“Apakah boleh menggunakan gerakan-gerakan yoga tanpa mengarah kepada matahari dan tanpa melantunkan mantra-mantranya?”

Maka jawabannya:

“Jika gerakan tersebut dilakukan tanpa menggunakan mantra-mantra tersebut, tidak mengahadap, condong atau menghormati matahari maka yang demikian ini tidak dikatakan dengan yoga. Ini hanya latihan-latihan olah tubuh yang mudah dan dikerjakan oleh agama-agama yang lain maka menggunakan yang demikian tidak masalah. Namun hal tersebut harus memperhatikan beberapa hal dibawah ini:

Pertama

Menyelisihi urutan gerakan yang ada dalam yoga dan memasukkan unsur gerakan di luar yoga dalam rangka menghindari penyerupaan.

Kedua

Tidak melakukannya di waktu-waktu orang Hindu mengerjakannya seperti ketika terbitnya matahari.

Batasan ini sebagaimana yang telah ditetapkan dalam shahihain dengan lafazh Muslim, hadits Amru bin ‘Anbasah bahwa Nabi shallallahu’alyahiwasallam bersabda kepadanya:

صَلِّ صَلَاةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنْ الصَّلَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ

“Shalat adalah suatu ibadah yang disaksikan dan dihadiri (oleh para malaikat) maka hendaklah kamu shalat hingga matahari terbit. Dan apabila matahari telah terbit, maka janganlah kamu shalat hingga matahari meninggi, karena matahari terbit diantara dua tanduk syetan, dan shalat pada waktu itu adalah shalatnya orang-orang kafir.”

Sumber : Muslim
Kitab : Shalatnya musafir dan penjelasan tentang qashar
Bab : Islamnya Amru bin ‘Anbasah
No. Hadist : 1374

Jika shalat secara Islam saja dilarang dilakukan pada saat tersebut untuk menjauhi penyerupaan kepada orang kafir, maka bagaimana hal nya dengan melakukan aktifitas yang dilakukan oleh orang kafir pada waktu terbitnya matahari ini walaupun ini hanya sekedar olah tubuh?

Hendaklah diketahui, yoga yang banyak digunakan saat ini di kalangan manusia adalah yoga yang menggabungkan unsur ketenangan dan kesucian jiwa bukan hanya olah tubuh semata. Hal ini bersifat umum dilakukan orang-orang yang mengulang-ulang beberapa mantra baru dan mengandung kesyirikan, diiringi dengan menghadirkan hati, memusatkan konsentrasi dan melihat ke suatu gambar atau sejenisnya. Mereka ini sebagaimana dikatakan para ahli ilmu, didatangi setan. Hati dan akal mereka dipenuhi khayalan dan keraguan. Oleh karena itu, mereka merasakan kebeningan hati atau kesucian semu sebagaimana yang diceritakan oleh sebagian tokoh thariqat dzikir-dzikir dan wirid-witid bid’ah terus menerus.

Ketenangan dan kescuian jiwa sebenarnya adalah dengan berpegang dengan sunnah dan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu’alayhiwasallam, mengingat Allah melalui apa-apa yang telah disyariatkan-Nya di dalam kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya shallallahu’alayhiwasallam sebagaimana firman Allah:

أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. [Ar-Ra’d: 28].

————————————————————————————————————————————————————————–

Selesai disalin dari Majalah Qiblati Vol.2/No.1 di Kota Bekasi dan ana mengharapkan ada penelitian lanjutan yang lebih detail terhadap permasalah ini.

%d blogger menyukai ini: