Syubhat: “Jika Al-Quran Diturunkan Untuk Seluruh Manusia Maka Mengapa Menggunakan Bahasa Arab?”

14 Jul

Syubhat: “Jika Al-Quran Diturunkan Untuk Seluruh Manusia Maka Mengapa Menggunakan Bahasa Arab?”

Itulah pertanyaan yang sering ditanyakan oleh kalangan yahudi dan nasrani. Syubhat ini bisa kita bantah dari beberapa sisi, yaitu:

1. Kalau sekiranya syubhat ini benar maka akan memberikan konsekuensi yang sama terhaap Injil bahwa Injil tidak sah disandarkan kepada Allah karena ia ditulis dengan bahasa yang tidak difahami kebanyakan manusia, yaitu bahasa Amirik, padahal mereka telah berkeyakinan jika Al-Masih diutus kepada seluruh manusia.

2. Kalau sekiranya syubhat ini benar maka dengan bahasa apakah seharusnya Al-Quran diturunkan? Bahasa apapun yang dipilih akan menimbulkan pertanyaan dan konsekuensi yang sama. Jadi pada akhirnya mengerucut pada kesimpulan bahwa Al-Quran itu tidak ada atau tidak benar. Sebenarnya setiap muslim harus menyadari bahwa ucapan diatas dimaksudkan sebagai upaya membatalkan A-Quran dengan akal-akalan yang tidak sehat.

3. Kalau dalam hal ini menerima adanya semacam usulan maka sama halnya dengan meyakini bahwa Al-Quran itu buatan manusia bukan diturunkan ole Allah. Karena kalau diturunkan oleh Allah maka terserah Allah mau menurunkan dengan bahasa yang Dia kehendaki dan Allah telah menghendaki turunnya dengan bahasa Arab. Maka tidak adalagi pertanyaan yang tesisa bagi orang mukmin dan akal sehat selain: Apa hikmahnya Allah memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran? Inilah yang akan kita jawab dalam point2 berikut:

a. Al-Quran diturunkan dalam bahasa arab karena bahasa Arab memiliki kekhsususan yang tidak dimiliki bahasa yang lain. Bahasa Arab adalah bahasa dengan kosakata yang banyak, manis untuk diucapkan, halus gaya bahasanya dan materinya berlimpah. Bahasa Arab juga memiliki faktor-faktor yang dapat membuatnya berkembang dan lestari yang tidak dimiliki bahasa lainnya. Hal ini terjadi karena adanya variasi metode dalam meletakkan kata dan berdalil, adanya keteraturan sharaf [perubahasan kata] dan derivasi [turunan kata], berbagai majaz dan kinayah [penggunaan kata-kata secara kiasan], beraneka ragamnya kosakata, hingga singkatan, qalb [iqlab, pembalikan], ibdal [penggantian] dan ta’rib [pengaraban]. Banyak penulis asing yang mengakui kelebihan bahasa ini seperti Ernest Renan dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Bahasa Smit”, ia berkata ” Diantara perkara yang menakjubkan adalah bahwa bahsa tersebut [bahasa Arab] sangat kuat dan sempurna di tengah kehidupan padang pasir yang dimiliki suatu kaum yang suka berpindah-pindah. Bahasa tersebut mengungguli bahasa yang lain karena banyaknya kosa kata, kedalaman maknanya, dan keindahan untaian bangunannya. Sebelumnya bahasa ini tidak banyak diketahui oleh umat-umat yang lain. Tetapi semenjak ia diketahui ternyata ia tampil di hadapan kita dalam kesempurnaannya bahkan sampai pada tingkatan tidak berubah dengan perubahan yang berarti. Bahkan perubahan ini tidak pernah terjadi pada sepanjang fase-fase kehidupannya [Majalah Al-Azhar Jilid 3 halaman 241].

b. Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab karena bahasa Arab merupakan sarana untuk memahamkan suatu kaum yang Rasul ditutus di tengah-tengah mereka. Dimulailah dakwah di tengah-tengah mereka sebelum disampaikan kepada yang lain sebagaimana firman Allah:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. [Ibrahim: 4]

c. Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab bertujuan untuk mengokohkan mukjizat Al-Quran dan menguatkan kebenaran risalahnya. Nabi telah diutus di tengah-tengah kaum yang fasih bahasanya. mereka berlomba dalam prosa dan syair di tempat-tempat berkumpul mereka atau di pasar-pasar . Datanglah Nabi dengan membawa Al-Quran, tanda yang pasti dan hujjah yang terang atas kenabiannya. Beliau berkata kepada mereka: Jika kalian meragukan bahwa Al-Quran berasal dari Allah maka buatlah yang semisal, akan tetapi mereka tidak sanggup. Maka Nabi menantang mereka untuk membuat sepuluh surat yang sama dengannya akan tetapi mereka pun tidak sanggup. Kemudian mereka saling tolong menolong untuk membuat satu sura semisal, sekali lagi mereka tidak sanggup . Oleh karena itu tidak ada yang lebih mereka sukai kecuali mendusatakan beliau. Ini merupakan dalil bahwa Al-Quran berasal dari sisi Allah sebagaimana Allah berfirman :
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. [Al-Baqarah: 23].
—————————————————————————————————————————
Disalin dari majalah Qiblati Edisi Dzulqa’dah 1427 H dengan sedikit perubahan di Kota Bekasi. Bagi teman-teman yang ingin melihat note FB yang pernah ana tulis sebelumnya, silakan kunjungi blog ana yang sangat sederhana sekali: https://mukhtashar.wordpress.com/

%d blogger menyukai ini: