Kisah Taubatnya Seorang Penari Wanita Terkenal

17 Jul

Seorang artis penari terkenal, Halah Ash-Shafi menceritakan kisah hijrahnya dari dunia tari serta taubat dan ketenangan jiwanya ketika kembali ke dalam rumah dan kehidupannya. Dia menuturkannya dengan untaian kalimat yang menyentuh qalbu melalui jumpa persnya yang disiarkan oleh banyak media cetak. Dia berkata:

“Pada suatu hari saya menari seperti biasanya di salah satu hotel di kota Kairo yang terkenal. Tiba-tiba saya merasakan untuk pertama kalinya seolah-olah saya ketika menari hanyalah sesosok mayat hidup yang melenggak-lenggok tanpa arti. Pertama kalinya saya merasa malu ketika saya dalam keadaan setengah telanjang [maksudnya bukan telanjang dada tapi sebagian tubuhnya terbuka dan berpakaian ketat seperti umumnya para dancer pada zaman ini-ed], dan saya seolah-olahh baru pertama kali menari di hadapan para lelaki hidung belang dan dihadapan gelas-gelas minuman keras yang bertaburan. Segera kutinggalkan tempat tersebut sambil menangis histeris hingga saya sampai di kamarku. Segera saya gunakan pakaianku, perasaan-perasaan yang belum pernah kurasakan sepanjang hidupku menggangguku lagi padahal tarian telah saya jalani semenjak pertama semenjak usia saya masih 15 tahun. Lalu saya segera mengambil wudhu dan shalat. Saat itulah, untuk pertama kalinya saya merasakan kebahagian dan ketenangan. Maka sejak saat itu, saya mengenakan hijab [jilbab-ind] walau banyak tawaran untuk menari lagi, juga banyak yang mencemooh dan menghinaku. Saya tunaikan ibadah haji, saya menangis dan menangis, berharap semoga Allah mengampuni hari-hari kelamku.”

Mantan penari itu mengakhiri kisahnya yang menyentuh dengan mengatakan:

”Halah Ash-Shafi telah mati dalam diriku, hari-harinya yang lalu telah terkubur bersamanya. Adapun nama saya sekarang adalah Sahir Abidin, Ummu Karim, Ibu rumah tangga, hidup bersama anak dan suamiku. Air mata penyesalan selalu menyertaiku teringat hari-hari yang telah kulalui dari umurku, jauh dari Penciptaku yang telah menganugerahiku segalanya. Sungguh saya sekarang bagai anak yang baru dilahirkan. Saya merasa tenang dan tentram setelah kegundahan dan kesedihan menjadi temanku walaupun dipenuhi dengan kemewahan dan ketenaran”.

Dia menambahkan:

“Kulalui sepanjang usiaku yang lalu bersama setan. Tidak ada yang kuketahui kecuali kesia-siaan dan tarian. Dulu saya hidup tercela, hina dan nista, Alhamdulullah, kini saya terlahair kembali dan merasa berada di tangan yang terpercaya yang menyayangi dan memberikan berkah kepadaku, itulah tangan Allah”.
————————–
—————————————————————————————–

Disalin dari majalah Qiblati Edisi Dzulqa’dah 1427 H dengan sedikit perubahan di Kota Bekasi. Bagi teman2 yang ingin membaca catatan-catatan ringan di FB yang sebelumnya pernah ana buat silakan kunjungi blog ana yang sangat sederhana sekali: http://www.mukhtashar.wordpress.com/
%d blogger menyukai ini: