Kisah Sehelai Sapu Tangan dan Seorang Salafi

21 Jul

Ini adalah kisahku ketika kelas 2 SMA. Jadi begini…

Sehabis shalat berjama’ah di Masjid Sekolahku, aku duduk untuk memakai sepatu dan disampingku ada sehelai sapu tangan yang aku tak tahu itu milik siapa. Disampingku ada seorang anak yang bernama Fulan [nama disamarkan-ed].

Setelah aku naik ke lantai atas [karena kelasku ada di tingkat satu], untuk menghabiskan waktu istirahat aku melihat teman-teman bermain sepak bola di lapangan sekolah. Nah, lagi enak-enak aku menonton sepak bola, tiba-tiba ada suara yang aku tak yakin suara itu ditujukan kepadaku. Suara itu berbunyi “Assalaamu’alaykum”, suara yang lembut dan bersahabat. Sejenak aku kebingungan mencari asal suara tersebut dan ternyata sumber suara itu berasal dari arah belakangku yang tak lain adalah suara si Fulan yang duduk disampingku tadi di teras masjid ketika aku memakai sepatu. Sontak saja aku kaget, aku menjawab salamnya dengan terbata-bata karena tak terbiasa. Aku benar-benar heran. Selama lebih dari 15 tahun aku hidup baru kali ini ada orang yang mengucapkan salam kepadaku di tempat dan keadaan yang tidak biasa.

Setahuku waktu itu, salam hanyalah diucapkan ketika seseorang ingin memasuki ruangan saja. Namun harus kuakui keherananku tertutup oleh rasa kagum terhadap keramahan teman sekolahku itu yang aku hanya kenal namanya saja sebab kami berbeda kelas.

Fulan lalu berkata kepadaku, “Ini sapu tangan milikmu?”. Lalu aku jawab, “Oh bukan, itu bukan punya Gw”, “Oh ya sudah kalau begitu” jawab Fulan dan diapun berlalu sambil kembali mengucapkan salam. Entah kenapa setelah dia pergi ana merasa sedikit tergelitik saja, kok ada ya orang mengucapkan salam selain didepan pintu rumah? Lebih dari itu, aku kagum dengan sikapnya yang jelas-jelas merupakan sikap kepedulian. Bayangkan! ada seseorang yang rela menaiki tangga [sebab kelas dia di lantai bawah-ed] untuk mencapai lantai atas sekolah hanya untuk menyerahkan sebuah sapu tangan yang dia sendiri belum yakin siapa pemilik sapu tangan tersebut dan dia pun tidak mengenal baik diri ana, cuma sesekali saja berpapasan dan terkadang shalat berjama’ah bareng di masjid. Kalo ana jadi dia, ga bakalan ana mau capek-capek kayak gitu, gumamku dalam hati waktu itu…

Fulan adalah seorang yang disegani oleh teman-temanku di sekolah dan aku juga segan terhadap dirinya. Dia adalah anak yang pemalu, pendiam tapi ‘alim, walaupun secara akademik kami tidak terlalu memperhitungkannya, begitulah sosok dia dalam pandangan kami. Lucunya lagi, teman-teman ROHIS [Kerohanian Islam] di tempat ana adalah salafi secara umum [tapi waktu SMA, ana belum kenal bahwa di dunia ini ada yang namanya da’wah salafiyah-ed] dan begitu segan terhadap si Fulan ini, sampai-sampai ketika shalat berjama’ah tidak ada anak ROHIS yang mau/berani mengimami jama’ah jika di tempat itu [masjid] ada Fulan. Padahal si Fulan ini bukan anak ROHIS tapi anak PMR. Namun secara zhahir, Fulan ini sama penampilannya dengan teman-teman ROHIS-ku yakni “cingkrang” celananya [tidak isbal].

Fulan juga terkadang setiap hari jumat pagi mengisi kajian di kelasnya sambil menggunakan papan tulis sebagai sarana penjelas di depan kelas padahal di kelas tersebut ada anak-anak ROHIS. Dua hal yang unik dari Fulan yakni: terkadang dia shalat memakai sarung walaupun sudah memakai celana panjang dan dia tidak mau memulai shalat kecuali barisan telah benar-benar rapat antara tumit dengan tumit dan bahu dengan bahu, bahkan dia sampai berjalan diantara barisan hanya untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Dari dia lah ana mengetahui bahwa shaf shalat itu harus benar-benar rapat dan lurus walaupun dulu ana ga tahu haditsnya.

Singkatnya dua setengah tahun berlalu, dan akhirnya ana mulai mengenal dakwah salafiyah di bangku kuliah tepatnya di UGM dan ana baru tahu kalau Fulan itu seorang Salafi…

Ironis memang, sekarang ana ga tahu dimana si Fulan berada, ingin rasanya berjumpa lagi dengannya. Jika bertemu, mungkin dia kaget bahwa anak yang dahulu ditemuinya di lantai atas sekarang mulai mengenal manhaj salaf, sudah berjenggot dan tidak isbal lagi [walaupun bukan ini standar kesalafiyahan seseorang-ed]. Mungkin dia sudah lupa kejadian itu, bahkan hal seperti itu terlihat sepele. Namun tahukah kalian bahwa hal kecil semacam itu sangat membekas di hati ana dan dari kejadian itulah ana belajar akhlak [tentang kepedulian terhadap sesama] dari seorang salafi…

Ya, salafi yang bagi sebagian manusia dipandang sebelah mata…

Salafi yang dicap wahabi…

Salafi yang dianggap aneh…

Salafi yang disebut2 kasar…

Namun itu kesan pertama sebagian manusia terhadap salafi, berbeda sekali dengan kesan pertama ana terhadap salafi dan dakwah salafiyah…

Alhamdulillah bini’mati tatimmu shalihat

Selesai ditulis di Kota Bekasi oleh Abu Zayd Al-‘Ashriy
—————————————————————————————————————————-
Note ini ana buat untuk iseng-iseng aja mengisi waktu luang karena setiap orang umumnya memiliki rasa bosan terhadap rutinitas kesehariannya. Mungkin kisah ini ga berkesan bagi banyak orang tapi sangat berkesan bagi ana secara pribadi. Maaf jika ada yang tidak berkenan…

%d blogger menyukai ini: