Hanya Poligami Solusinya! [Bagian 1]

26 Jul

Pada sensus penduduk yang dilakukan secara resmi oleh pemerintah Amerika Serikat akhir-akhir ini menjelaskan bahwa jumlah wanita melebihi jumlah laki-laki dengan bilangan lebih dari 8 juta wanita. Di Inggris jumlah perbedaan tersebut mencapai 5 juta wanita. Sementara di Jerman perbandingan laki-laki dan wanita adalah 1:3.

Dalam sebuah sensus yang dilakukan oleh mingguan Al-Maidan [Edisi selasa 6 Mei 1997] menguatkan angka tersebut dengan menyatakan bahwa di antara 10 gadis Mesir di usia nikah yang terlambat menikah dari usia 22-32 tahun hanya satu diantara mereka yang menikah. Sementara sang suami selalu telah menapaki usia 36 tahun bahkan sampai 40 tahun. Hal ini disebabkan mereka menuggu selama 10-12 tahun untuk bisa mendapatkan pekerjaan kemudian mengumpulkan mahar baru kemudian menikah.

Mingguan tersebut juga menyebutkan hubungan yang diharamkan seperti pacaran, pergaulan bebas, perzinaan, kumpul kebo semaikin bertambah karena sulitnya menikah baik monogami maupun poligami, sementara rangsangan dan kesempatan penyimpangan seksual terbuka lebar.

Sensus resmi di Amerika Serikat menyebutkan bahwa di kota New York setiap tahunnya telah dilahirkan satu bayi hasil zina dari 6 bayi yang dilahirkan setiap harinya. Tidak diragukan lagi bahwa jumlah tersebut akan mencapai jutaan wilayah Amerika Serikat.

Sementara itu di Iraq dan Iran, perbedaan jumlah laki-laki dan perempuan sangat mencengangkan dimana pada suatu daerah perbandingannya mencapai 1:5 [yakni satu laki-laki, 5 wanita] dan pada daerah lain 1:7.

Begitu pula yang terjadi di Bosnia dan Herzegovina yang dilanda penindasan selama empat tahun [1992-1996], perbedaan lebih mencengangkan lagi yakni 1:27! Maka dari sini tentunya kita bisa membayangkan betapa besar sisi negative pada masyarakat dengan kondisi yang demikian. Maka apa yang akan dilakukan oleh gadis-gadis muslim di sana jika mereka tidak mendapat suami? Padahal di sana terjadi penindasan besar-besaran dari kalangan katolik dan Komunis. Apakah kita akan membiarkan menikah dengan pemuda-pemuda Serbia yang beragama Ortodox atau Kroatia yang beragama Katolik?! Sungguh sangat menyedihkan ungkapan orang-orang egois yang melarang poligami! Apakah mereka [orang-orang bodoh tersebut] lebih memilih gadis-gadis muslimah yang tidak bersuami tersebut untuk menjadi gundik, pelacur atau yang semacamnya?! atau tetap hidup tanpa suami sampai mati, sementara yang lain merasakan kedamaian rumah tangga yang suci?! Sementara itu di Kuwait, sebagaimana dirilis oleh Majalah Kuwait Al-Ahram pada edisi perdananya bahwa jumlah perawan tua di Kuwait sebanyak 40 ribu orang. Keadaan yang demikian memaksa mereka menulis surat kepada para wanita yang telah bersuami untuk mengizinkan suami-suami mereka menikahi perawan-perawan tua tersebut.

Jumlah di atas bukanlah jumlah yang sedikit bila dibandingkan dengan penduduk Kuwait yang berjumlah setengan juta orang. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah perawan tua di sana mencapai 16% dari wanita Kuwait yang mencapai seperempat juta.

Intinya, seluruh sensus di dunia mencatat bahwa jumlah wanita lebih banyak dari jumlah laki-laki, mencapai 70% dan Saudi sendiri mencapai anga 65%.

Dr. Muhamad Hilal Ar-Rifa’i spesialis penyakit wanita dan kandungan mengatakan: “Wanita yang tidak menikah atau terlambat menikah lebih mudah terkena penyakit kanker payudara daripada wanita yang sudah menikah, begitu pula kanker rahim. Aku telah banyak bertanya kepada para wanita yang memeriksakan dirinya kepadaku: Apakah engkau lebih memilih tidak menikah ataukah menikah dengan satu suami atukah menikah dengan satu suami bersama wanita lain? Maka kebanyakan jawaban mereka adalah mau manerima menikah dengan suami yang telah beristri daripada hidup menjadi perawan tua. Bahkan diantara mereka mengatakan bahwa ridha menjadi istri yang ketiga atau yang keempat daripada hidup dalam keadaan menjadi perawan tua.”

Lebih dari itu seorang dokter wanita yang telah membaca sebuah hasil sensus penduduk yang menyebutkan bahwa terdapat 10 juta gadis dan janda hidup seorang diri di Mesir. Adakalanya mereka adalah wanita yang telah ditalak atau janda yang sudah disetubuhi atau yang belum, kemudian anak-anak mereka besar, menikah atau hijrah, atau diantara mereka adalah para wanita yang memang benar-benar pernah menikah.

Setelah membaca laporan tersebut dia berkata: “Adakah seseorang yang mampu membayangkan besarnya kemalangan yang dihadapi oleh wanita-wanita yang sendirian ini? Sesungguhnya wanita-wanita tersebut tidak mampu melakukan hubungan yang harmonis dengan orang lain bahkan mereka hidup menyendiri dalam keadaan gelisah, cemas serta was-was dari tuduhan orang lain yang khawatir suami mereka akan direbutnya yang demikian ini menyebabkan banyak diantara mereka melakukan penyimpangan-penyimpangan akhlak dan terpaksa melakukan hubungan gelap dengan laki-laki yang sudah menikah. Solusi apakah yang manusiawi untuk wanita-wanita malang itu? Tidak ada kata bijak kecuali ajakan kembali ke syari’at. Tidak ada solusi kecuali poligami. Hanya poligami solusinya!

Bersambung insyaa Allah…

————————————————–

Disalin dari majalah Qiblati edisi Dzulhijjah 1427 H dengan sedikit perubahan di Kota Bekasi.
%d blogger menyukai ini: