Masuk Islam Setelah Membaca Sebuah Majalah Islam

28 Jul

Dulu aku beragama Hindu dan belum banyak tertarik dengan Islam. Boleh jadi hal tersebut disebabkan aku belum memberikan kesempatan kepada diriku untuk meneliti, menyelidiki secara mendalam dan mencari kebenaran.Sepangjang umurku, aku tidak yakin dengan agama Hindu, akan tetapi permasalahanku adalah bahwa aku belum mendapati sebuah agama pengganti yang mengeluarkanku dari kebingunganku.

Setelah beberapa waktu, aku dapati bahwa agama Nasrani lebih dekat dengan hatiku. Mulailah aku mempelajari ajaran-ajarannya. Akupun pergi ke salah satu gereja secara sembunyi-sembunyi.
Setelah itu, tiba-tiba datang sebuah kesempatan bagiku untuk bekerja di Emirat Arab dan disanalah kisahku bersama Islam berawal.

Pada suat uhari, aku menunggu di ruang tunggu pemberangkatan pada salah satu terminal penerbangan domestik, maka akupun berkenalan dengan seorang pemuda Indonesia. Kamipun bercakap-cakap berbagai hal. Jadwal keberangkatan pemuda tersebut lebih awal setengah jam dari jadwal keberangkatanku. Di saat dia hendak berangkat, dia berpamitan kepadaku dan menyerahkan sebuah hadiah dan meyerahkan sebuah hadiah dan berkata: “Ini kalau mau baca-baca, agar engkau tidak merasa bosan menunggu jadwal penerbangan.” Hadiah tersebut ternyata adalah majalah Qiblati.


Mulailah aku membolak-baliknya. Aku merasa berada di alam asing yang tidak mengikatku dengan sebuah hubungan apapun. Akan tetapi sebagian makalah menarik hatiku, seperti cara penyelesaian masalah keluarga yang menyentuh fitrahku, lebih khusus dari sisi wanita yang sama sekali tidak diwajibkan untuk bekerja dan member nafkah, bahkan wanitalah yang ditanggung kebutuhannya oleh suaminya. Begitupula beberapa kisah orang yang masuk Islam. Adalah aku berusaha mengkhayalkan diriku seakan-akan akulah pemilik kisah tesebut.

Mulai hari itu, akupun mulai memikirkan Islam. Aku putuskan dalam diriku untuk bertekad mencari beberapa edisi lain dari majalah Qiblati dengan harapan agar pemikiran islam benar-benar merasuk dengan mendalam dalam jiwaku atau hilang sama sekali. Akan tetapi aku mendapati kesulitan saat aku mencarinya di pasaran, ternyata aku tidak mendapatinya. Aku bertanya kepada sebagian orang Indonesia, mereka menyampaikan bahwa mereka tidak mengetahuinya. Bahkan sebagian di antara mereka menyebutkan bahwa dia belum pernah mendengat sebelumnya. Akan tetapi salah satu di antara mereka mengabarkan bahwa tempat terdekat yang menjual majalah tersebut adalah Saudi Arabia.


Secara kebetulan, majikanku akan pergi umrah, maka aku meminta kepadanya untuk membelikanku majalah Qiblati setelah aku kenalkan nama majalah tersebut. Majikanku merasa aneh terhadap permintaanku karena dia tahu bahwa aku bukanlah seorang muslim.

Ternyata benar, diapun berhasil menghadirkan majalah tersebut kepadaku. Maka akupun membuka lembaran-lembarannya dengan penuh kerinduan. Bersamanya, semakin bertambah keyakinanku terhadap Islam. Akan tetapi tinggallah kini beberapa kebutuhan yang membutuhkan jawaban atas beberapa pertanyaan dan konsultasi seputar Islam. Akupun menemui Imam Masjid di distrik tempat aku tinggal dan Imam tersebut belum mengenalku sama sekali. Akupun melontarkan beberapa pertanyaan. Ia menjawabnya dengan jawaban yang meyakinkan dan menenangkan. Kemudian ia mengajakku ke rumahnya saat ia mengetahui permasalahanku. Ia memberiku dua buah buku berbahasa Inggris tentang Islam setelah ia mengetahui aku bisa berbahasa Inggris.

Pada hari berikutnya, ia melimpahkan kepadaku beberapa buku kecil berbahasa Indonesia. Akupun menghilang kurang lebih selama dua minggu. Kemudian kutemui Imam masjid tersebut dan aku konsultasikan tentang masalah Sang Pencipta, tentang Nabi dan tentang cara yang dengannya aku akan masuk Islam.

Ia pun sangat bergembira, lalu mengajakku ke rumahnya dan memberikan kepadaku beberapa pelajaran. Akhirnya akupun mengucapkan dua kalimat syahadat. Aku sangat bersyukur kepada Imam ini yang telah banyak membantuku.

Dikarenakan majalah Qiblati adalah cahaya yang telah mengeluarkanku dari kegelapan, maka aku sangat senang untuk mengumumkan keislamanku melalui lembaran-lembarannya. Maka sesungguhnya aku umumkan melalui media anda:

“AKU BERSAKSI BAHWA TIDAK ADA SESEMBAHAN YANG HAK SELAIN ALLAH DAN AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH.”

Disalin dari majalah Qiblati edisi Dzulhijjah 1427 H dengan sedikit perubahan di Kota Bekasi.

%d blogger menyukai ini: