Wasiat dari Seorang Pemuda Sederhana Kepada Khalifah Harun Ar-Rasyid [Bagian 2]

28 Jul

Siapakah Ahmad? Ahmad adalah putra Khalifah Harun Ar-Rasyid yang hidup jauh dari cahaya kekuasaan ayahandanya yang menyilaukan hati orang yang berdebar kagum. Seluruh kekayaan timur dan barat terkumpul di kekuasaannya dan setiap pembesar di berbagai negeri dan kerajaan dizamannya meminang cintanya. Ahmad hidup dalam keadaan zuhud, ahli ibadah, tidak makan kecuali dari hasil kerja tangannya sendiri. Dia bekerja sebaga buruh upahan di tanah pertanian. Modalnya adalah sekop untuk mengumpulkan tanah dan keranjang jerami untuk memilkul apa yang telah dia kumpulkan untuk kemudian dia jadikan menjadi tanah liat.

Dalam satu minggu dia hanya bekerja satu hari saja yaitu pada hari Sabtu. Dan dengan pekerjaannya tersebut dia mendapatkan satu dirham dan beberapa danik [pecahan uang dirham]. Kemudian dia kembali beribadah pada hari-hari lainnya dalam satu minggu tersebut. Demikian seterusnya.

Dikatakan bahwa ibunya bernama Zubaidah. Hal ini dibenarkan oleh Ibnu Katsir di dalam Bidayah Wa Nihayah [X/191]:

“Dia adalah putra seorang wanita yang dicintai oleh Ar-Rasyid yang kemudian menikahinya sebelum dia memegang pemerintahan. Maka tatkala wanita tersebut mengandung Ahmad darinya dan dia mengirimnya ke Bashrah dan memberinya sebuah cincin Yaqut [permata] yang berwarna merah dan beberapa barang berharga lainnya. Dia memerintahkannya untuk mendatanginya pada saat dia sampai di kursi Khalifah. Pada saat itu Ar-Rasyid senantiasa mengikuti berita tentang wanita tersebut dan mengirimkan kepadanya apa yang baik untuknya. Telah sampai kepadanya bahwa wanita tersebut telah meahirkan seorang anak dan diberi nama Ahmad.

Tatkala tampuk Khilafah sampai kepadanya, wanita tersebut tidak mau mendatanginya, tidak juga anaknya bahkan keduanya bersembunyi. Dan telah sampai kabar kepadanya bahwa keduanya telah meniggal. Padahal sesungguhnya tidak demikian. Kemudian Ar-Rasyid menyelidiki dan mencari keduanya akan tetapi tidak menemukan jejaknya.”

Ahmad dan Ibunya kembali ke Baghdad, di sisi kerajaan ayahandanya. Tahukah anda bagaimanakah Baghdad kala itu? Baghdad adalah kota peradaban dunia, Ibukotanya Ibukota. Kota Megapolitan yang tidak ada tandingannya di dunia dalam keagungannya, aktivitasnya, banyaknya ulama, ilmuwan dan cendikiawannya, keistimewaan para penghuninya yang khusus dan yang awam, besar dan banyaknya rumah serta jalan-jalannya, masjid-masjidnya hingga seakan-akan Baghdad itulah dunia seluruhnya.

Setelah beberapa waktu Ahmad dan Ibunya kembali Baghdad tanpa menyebutkan jati dirinya yang sesungguhnya. Dia hidup dalam keadaan ridha dan berbahagia. Dia tidak melangkah di kehidupan dunia ini kecuali menuju keridhaan Rabb-nya dan keridhaan Ibunya.

Datanglah ketentuan Allah. Sampailah ajal kepada Ibunya. Sebelum rohnya tercabut menuju kepada Penciptanya, sang ibu memberikan cincin yang telah dihadiahkan oleh Ar-Rasyid kepada putranya. Kemudian sang ibu meninggal di dalam sebuah kamar sempit yang tidak ada kemewahan dunia di dalamnya yang bisa dilihat oleh mata.

Setelah wafatnya Ibunya, kehidupannya sama sekali tidak berubah, sama seperti sedia kala. Dia tetap dalam pekerjaannya di hari Sabtu dan sisanya untuk ketaatan dan Ibadah kepada Allah.

Wahai teman-temanku. Ini adalah sebuah kisah dari kisah-kisah yang paling menakjubkan. Kisah seperti ini jarang terjadi, kecuali pada masa yang sangat berjauhan rentangnya dari usia zaman.

Pemiliki kisah ini rela meninggalkan perhiasan dunia padahal dia masih muda belia. Ini adalah sebuah gaya hidup yang sangat langka di dalam dunia manusia. Sungguh, cahaya ketaqwaan telah menyinari sisi-sisi jiwanya.

Semoga Allah merahmati Ahmad bin Harun Ar-Rasyid bersama Ibunya. Aamiin.

%d blogger menyukai ini: