Canda dan Tawa Para Syaikh Ahlussunnah Asal Saudi Arabia Selama Berkunjung Ke Indonesia

16 Sep

1. Pada saat tamasya ke air terjun Coban Rondo Batu, Syaikh Mamduh meminta kepada Syaikh Khalid untuk membacakan sebagian ayat-ayat Al-Quran karena suara beliau sangat indah dan merdu. Maka Syaikh Khalid segera membuka mushaf dan membaca dari firman Allah yang artinya:

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. [Al-Baarah: 187]

Karuan saja para masyaikh  langsung tertawa sebab ayat yang dibaca tentang hubungan suami istri di malam hari di bulan Ramaahan bukan tentang keajaiban alam ciptaan Allah.

2. Ketika pergi ke pantai Watu Ulo, Jember, kami naik ke atas bukit dan lupa membawa makanan atau minuman. Semua barang tertinggal di mobil dan villa. Karena kelelahan dan angin pantai yang semilir maka semua tertidur di sana selama 2 jam kecuali syaikh mamduh yang asyik berdiskusi dengan ustadz Abu Hamzah. Ketika kami putuskan untuk turun ternyata kita semua merasa kehausan dan tidak ada air. Maka untuk menghibur, ustadz Abu Hamzah mengatakan: “Semakin kita haus maka semakin nikmat saat kita minum”. Syaikh Mamduh segera menimpali: “Salah, yang benar: Semaikin kita haus, semakin dekat kepada kematian.” Maka semua tertawa. Ustadz Abu Hamzah  tidak mau kalah, ia terus berkelakar dengan mengatakan: “Hebat, kalimat sempurna yang bagus: semakin kita haus maka semakin dekat pada kematian. Baik, ayo siapa lagi yang dapat menyebutkan kalimat sempurna yang menggunakan model semakin kita…maka semakin…” Maka syaikh Mamduh seketika berseloroh: “Aneh Ustadz Agus ini, para tamunya minta air , ia malah minta kalimat sempurna!”😀

3. Di Villa tempat beristirahat para masyaikh yakni Di Daerah Batu ada satu kolam renang yang sangat indah. Para syaikh tidak pernah memanfaatkannya kecuali sekembalinya dari penutupan daurah. Syaikh Yusuf yang berbadan subur alias gemuk itu begitu menceburkan diri ke dalam kolam langsung menggigil kedinginan dan megap-megap karena selama hidupnya tidak pernah berenang sama sekali.  Karena Syaikh Yusuf tidak pandai berenang maka beliau terus menerus meminum air kolam, melihat hal itu syaikh Mufti [yakni Mufti alias Juru Fatwa Masjidil Haram Mekah] berkomentar: “Antum harus membaca doa: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum pada kami”.😀

4. Saat dalam perjalanan, Syaikh Mamduh bercerita tentang seorang muslim Arab yang awam pergi ke Amerika. Teman kita ini sangat benci Amerika, karena kejahatan mereka terhadap kemanusiaan, khususnya terhadap umat islam. Hatinya penuh dengan kebenciaan dan kecurigaan . Saat tiba di Bandara ia disambut oleh beberapa orang Amerika sementara ia tidak mengerti sama sekali bahasa Inggris. Orang Amerika itu menyambut dengan berkata: “Good Morning [selamat pagi]…” Maka kawan kita berpikir sejenak dan tidak menjawab apapun. Tapi karena diulang-ulang ucapan itu maka kawan kita ini berkata dalam bahasa arab yang artinya: “Saya tidak paham apa yang kamu katakan tetapi sebagai bentuk kewasapadaan dan kehati-hatian aku katakan: Semoga laknat Allah atasmu!” Si Amerika –yang juga tidak paham bahasa arab- dengan polosnya menjawab: “Ok, thank you sir [Oke, terima kasih pak]…”

——————————————————————————-

Kuringkas dari Majalah Qiblati untuk https://mukhtashar.wordpress.com/

%d blogger menyukai ini: