Peringatan Untuk Para Pemula Di Bidang Hadits

18 Sep

Bidang hadits telah dimasuki oleh orang-orang yang bukan ahlinya. Al-Imam Al-Khathib Al-Baghdadi menceritakan tentang keadaan mereka:

“Sungguh aku telah melihat orang-orang dari penghuni zaman ini menisbatkan diri kepada hadits dan menganggap diri-diri mereka termasuk ahlinya padahal merka adalah orang yang paling jauh dari dakwaan mereka, paling sedikit ma’rifatnya akan apa yang mereka nisbatkan kepada diri mereka. Seorang dari mereka memandang jika telah menulis jumlah yang sedikit dari juz-juz, menyibukkan diri mendengar hadits dalam waktu sedikit bahwa dia adalah ahli hadits secara mutlak dan tidak pernah mengupayakan jiwanya dan memaksanya untuk mencarinya dan tidak pernah bersusah payah menghafal macam-macamnya dan bab-babnya…

Dan mereka –dengan sedikitnya apa yang mereka tulis dari hadits dan ketiadaan ma’rifat mereka tentangnya – adalah orang yang paling besar kesombongannya, paling sesat lagi ‘ujub, tidak memperhatikan kehormatan guru dan tidak mewajibkan tanggung jawab kepada murid. Mereka melecehkan para perawi dan mereka kasar terhadap penuntut ilmu. Mereka menyelisihi konsekuensi ilmu yang mereka dengarkan dan lawan dari kewajiban yang mengharuskan mereka untuk mengerjakannya…” [A-Jami’ Liakhlaqi Rowi wa Adabis Sami’ hal 1 dan 4]

Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid menceritakan contoh-contoh fenomena orang yang berlagak tahu padahal bodoh di dalam hadits, beliau berkata:

“Sesungguhnya kitab-kitab  sunnah yang mulia, di dalam sebagian naskahnya ada perbedaan karena perbedaan para perawinya. Kadang perbedaan terjadi dalam satu bab secara keseluruhan atau dalam satu hadits atau di dalam lafazh suatu hadits dan seterusnya…

Telah terjatuh banyak orang didalam banyak kesalahan karena kelalaiaan mereka tentang hal ini. Suatu contoh, seorang imam menyadarkan kepada Sunan Abu Dawud riwayat Ibnu Dasah, kemudian datanglah seorang pentahqiq zaman ini yang merujuk kepada Sunan Abu Dawud yang telah dicetak, ternyata ia dari riwayat Al-Lu’lu’i maka dia katakan bahwa Imam tersebut telah waham [keliru] karena hadits tersebut tidak ada didalam Sunan Abu Dawud yang dicetak tersebut padahal dia [pentahqiq] sendirilah yang waham” [At-Ta’alum wa Atsaruhu ‘alal Fikri wal Kitab hlm. 51-52]

——————————————————————————————————————————–

Kusalin dari Majalah Al-Furqan edisi Ramadhan tahun ini dengan sedikit sekali perubahan di kota Jogja untuk untuk https://mukhtashar.wordpress.com/

%d blogger menyukai ini: