Kisah Dusta Tentang Keutamaan Berbakti Kepada Ibu: Al-Qamah Bersama Ibunya

2 Okt

Ringkasan ceritanya kurang lebih sebagai berikut:

Al-Qamah adalah seorang ahli ibadah. Tatkala sakartul maut, lidahnya tidak dapat mengucapkan kalimat “Laa ilaha illallah”. Rasulullah pun mendatanginya seraya bertanya kepada para sahabatnya: “Apakah ibunya masih hidup?” Jawab mereka: “Masih”. Sang Ibu pun dihadirkan, lantas menjelaskan bahwa dirinya telah mengutuk si anak [Al-Qamah] disebabkan  dia lebih mengutamakan istrinya daripada ibunya sendiri. Rasulullah meminta kepad sang  Ibu untuk mencabut kutukannya. Namun dia tidak bersedia, lantaran sudah kadung [terlanjur-ed] sakit hati. Ahirnya Rasulullah pun menyuruh para sahabatnya agar mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Al-Qamah supaya lekas mati. Bagaimanapun juga, sebagai seorang ibu, dia tidak tega putranya mengalami nasib seperti itu lalu akhirnya si Ibu mencabut kutukannya. Sedetik kemudian Al-Qamah mampu mengucapkan “Laa ilaha illallah”. Lalu wafatlah dia

Kisah ini sangat masyhur dan laris dipasarkan oleh para khatib di mimbar-mimbar masjid atau  pada Hari Ibu.

Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauziy dalam Al-Maudhu’at, Al-Uqailiy dalam Adh-Dhu’afa Al-Kabir, Al-Khara’itiy dalam Masawi’ Al-Ahlaq, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir sebagaimana disebutkan Imam As-Suyuthi dalam Al-‘Ali Al-Mashnu’ah.

Kisah ini bathi sebab kisah ini diriwayatkan dari jalan Faid Abu Warqa’ dari Abdullah bin Aufa. Berikut sekilas komentar ulama tentangnya:

Imam Ahmad berkata: “Matruk [ditinggalkan haditsnya]”. Ibnu Ma’in berkata: “Lemah dan tidak dipercaya”. Abu Hatim berkata: “Hadits-Haditsnya dari ‘Abdullah bin Abi Aufa adalah bathil [termasuk hadits ini-ed]. Seandainya ada orang yang bersumpah bahwa seluruh haditsnya [Faid bin Abu Warqa’] palsu, tidaklah dia disebut serang pengecut”. Al-Hakim berkata: “Dia meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Aufa hadits-hadits maudhu’ [palsu]”. [Lihat Tahdziibut Tahdziib oleh Ibnu Hajar]

Komentar para ulama tentang kisah ini:

1. Ibnul Jauzi juga mencantumkan kisah ini dalam Al-Maudhu’at tanpa menyebut nama Al-Qamah, lalu berkmentar: “Hadits ini tidak shahih dari Rasulullah”
2. Imam Adz-Dzahabi menyebutan kisah ini secara ringaks dan berkata dalam Mizanul I’tidal: termasuk musibah Dawud bin Ibrahim adalah perkataannya: Menceritakan kami Ja’far bin Sulaiman menceritakan kami Faid dari ibnu Abi Aufa”, kemudian beliau [Adz-Dzhabi] menyebutkan kisah ini lalu berkata: “Faid adalah seorang yang hancur”.
3. Al-Hafizh Ibnu Hajar juga mengatakan hal serupa dalam Lisanul Mizan
4. Al-Hafizh Al-Haitsamiy berkata dalam Majma’ Az-Zawaid: “Hadits riwayat Ath-Thabraniy dan Ahmad secara ringkas sekali, tetapi dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Faid Abu Warqa’ dia seorang yang matruk”.

Penelitian tentang Al-Qamah:

Nama Al-Qamah dalam kisah ini tidak jelas dan tersembunyi, Dan yakinnya hanya dibuat-buat oleh para pemalsu hadits sebab sahabat Nabi yang bernama Al-Qamah sangat jauh dari kisah bathil ini. Hal tersebut sangat jelas sekali bagi mereka yang membaca sejaarah sahabat bernama Al-Qamah dalam kitab Al-Ishabah dan Usdul Ghabah oleh Ibnu Atsir. Oleh karena itu kita tidak mendapati secara jelas namanya. Baik ayahnya, kakek, nama kabilah, kuniyahnya dan lain sebagainya.

——————————————————————————————————————————–
Kuringkas dari Buletin Majalah  Al-Furqan Edisi 7 Tahun 1 Halaman 10 dengan sedikit perubahan.

%d blogger menyukai ini: