Syubhat Orang yang Membolehkan Bersumpah Dengan Selain Allah [Bagian 2]

2 Okt

Terdapat dalam bebrapa hadits bahwa Rasulullah bersumpah dengan sebagian makhluk seperti dalam penggalan hadits dibawah ini:

“Aflaha wa abiihi in shadaqa” yang artinya: “Dia akan beruntung –demi bapaknya– jika dia jujur” [HR. Muslim No. 11]

Begitu juga dalam hadits berikut:

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ عَنْ عُمَارَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا فَقَالَ أَمَا وَأَبِيكَ لَتُنَبَّأَنَّهُ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْبَقَاءَ وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ
حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ بْنُ الْقَعْقَاعِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَ حَدِيثِ جَرِيرٍ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ

(MUSLIM – 1714) : Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ibnu Numair keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail dari Umarah dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah ia berkata; Seorang laki-laki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?” Maka beliau menjawab: “Demi bapakmu, kamu benar-benar akan diberitahu. Yaitu, kamu bersedekah pada saat kamu sehat, kikir, khawatir akan miskin dan kamu berangan-angan harta tersebut akan kekal bersamamu. Dan janganlah kamu lalai hingga nyawamu sampai di tenggorokan dan barulah kamu bagi-bagikan sedekahmu, ini untuk si Fulan dan ini untuk Fulan. Dan ingatlah, bahwa harta itu, memang untuk si Fulan.” Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Al Jahdari telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Umarah bin Al Qa’qa’ dengan isnad ini sebagaimana hadits Jarir. Hanya saja ia mengatakan; “Sedekah yang bagaimanakah yang paling utama?”


Sumber : Muslim
Kitab : Zakat
Bab : Sedekah yang paling utama adalah saat kaya dan pelit
No. Hadist : 1714

Maka kita jawab:

Para ulama telah menjelaskan maksud kedua hadits di atas dan menajwab syubhat seputarnya dengan beberapa jawaban, diantaranya:

Pertama: Lafazh hadits: “Aflaha wa abiihi in shadaqa” adalah lafazh yang tidak shahih dan tidak dikenal karena bertentangan dengan tauhid maka lafazh ini tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah. Akan tetapi jawaban ini lemah sebab nyatanya hadits tersebut shahih.

Kedua: Dalam lafazh tersebut telah terjadi perubahan yang berasal dari perawi [orang yang meriwayatkan hadits itu-ed], “Aflaha wa abiihi in shadaqa” seharusnya “Aflaha wallahi in shadaqa” karena pada zaman dahulu para ulama tidak menulis harakat pada lafazh-lafazh hadits, maksudnya lafazh و أبيه  menyerupai lafazh و الله. Masih belum paham? coba bayangkan seandainya huruf أ pada lafazh و أبيه   bentuknya seperti ini   ا dan huruf ya pada lafazh و أبيه  tidak diberi tanda titik dua dibawah karena  pada zaman dulu memang ga di kasih tanda. Sudah terbayang? Jadi menyerupai lafazh و الله kan? masih belum terbayang juga? ya sudahlah…kita lanjut ke poin ketiga dibawah dulu

Ketiga: Ucapan diatas adalah lafazh yang biasa mereka ucapkan tanpa maksud bersumpah sedangkan larangan bersumpah dengan selain Allah hanya berlaku bagi orang-orang yang bermaksud benar-benar untuk bersumpah.
Akan tetapi jawaban ini juga tidak benar karena larangan bersumpah dengan selain Allah adalah larangan yang umum, tidak membedakan antara yang bermaksud bersumpah atau tidak.

Keempat: Lafazh diatas yakni و أبيه  dan ucapan senada yang tedapat dalam sebagian hadits muncul di awal-awal islam, kemudian setelah itu datang larangan yang menasakh [menghapus] hukum tersebut dan mengharamkan bersumpah dengan selain Allah. Pendapat inilah yang benar dan didukung oleh mayoritas ulama pensyarah hadits.
——————————————————————————————————————————–
Kuadaptasi –tentunya dengan perubahan- dari Majalah Al-Furqan Edisi 2 Tahun Kesepuluh Halaman 25-26.

%d blogger menyukai ini: