Kisah Dusta: Tahkim [Pemutusan Hukum] Antara Abu Musa Al-Asy’ariy dan ‘Amr bin Al-‘Ash

9 Okt

 

Kisahnya sebagai berikut:

“Tatkala keduanya [Abu Musa dan ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu’anhuma] berkumpul di Daumatul Jandal, keduanya bersepakat untuk menurunkan Ali bin Abu Thalib dan Mu’awiyah radhiyallahu’anhuma dari Kekhilafahan. Amr berkata kepada Abu Musa: “Silakan anda berbcara dulu”. Abu Musa pun berdiri seraya berkata: “Aku telah pikirkan matang-matang ternyata sebaiknya aku turunkan Ali dari kekhalifahan sebagaimana aku turunkan pedangku ini dari pundakku” [lalu dia melepaskan pedangnya dari pundaknya]. Tibalah giliran ‘Amr bin Al-‘Ash untuk berbicara. Dia pun berdiri seraya berkata: “Aku telah berpikir matang-matang ternyata sebaiknya aku mengangkat Mu’awiyah sebagai khalifah sebagaimana aku mengangkat pedangku ini dari tanah” [lalu dia mengambil pedangnya dan meletakkan di atas pundaknya]. Mendengar hal tersebut Abu Musa pun tak tinggal diam, dia bergegas mengingkari dengan keras tapi jawab Amr bin Al-‘Ash dengan mudah: “Demikianlah kesepakatan kita”.

Kisah ini juga masyhur dalam sejarah, khususnya di buku-buku kurikulum anak-anak kita untuk menodai nama baik sahabat Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan Amr bin Al-‘Ash serta menggambarkan mereka sebagai orang yang sangat licik, musuh bebuyutan Ali bin Abu Thalib, politikus yang menghalalkan darah kaum muslimin dan tuduhan-tuduhan keji lainnya. Semua ini dusta –Demi Allah- disebabkan:

1. Kisah ini tidak shahih, bahkan pemutarbalikan sejarah. Al-Qadhi Abu Bakar berkata dalam Awashim Minal Qawashim hal 179.: Kisah ini seluruhnya dusta belaka, tidak pernah terjadi satu huruf pun. Ini hanyalah karangan ahlul bid’ah yang diwarisi oleh orang-orang yang tidak mengerti”

2. Kisah yang shahih adalah bahwa keduanya berkumpul dan membuahkan sebuah kesimpulan yaitu: “Menyerahkan keputusan terbaik kepada kaum muslimin dan keduanya saling menghormati:. [Lihat kisahnya dalam Al-Bidayah Wa An-Nihayah {7/284} oleh Ibnu Katsir]

3. Kalaulah memang shahih maka sikap yang benar menghadapi fitnah di antara sahabat Rasulullah shallallahu’alayhiwasallam adalah menahan lidah kita dari mencela mereka dan mendoakan ampunan untuk mereka. Dalam hadits disebutkan:
“Idzaa dzukira ashaabiy famsikuu” “Apabila disebut sahabatku maka tahanlah” [Lihat Ash-Shahihah no.34]

Al-Munawi dalam Faidhul Qadir [1/437] berkata:
“Sabda beliau: “Apabaila disebut sahabatku”, yaitu apa yang terjadi diantara mereka berupa perselisihan dan peperangan. Adapun sabdanya: “Tahanlah”, yakni jangalah mencela mereka atau menyebut mereka dengan kata-kata yang tidak pantas karena mereka adalah sebaik-baik umat”.
——————————————————————————————————————————–

Sumber: Buletin Dakwah Al-Furqan Edisi 7 Tahun 1 Halaman 11

%d blogger menyukai ini: